PEMBUNUHAN KARAKTER!!!!
Friday, October 13th, 2006
“ apa? di tarik kembali! Berita ini harus di publikasi kan! Masyarakat perlu tau kebenaranya. Ini kan telah masuk ke meja redaksi? Bukankah tim sepakat untuk mejadikan topik ini sebagai berita utama…” komentar ku dengan nada sedikit meninggi, penuh rasa kecewa dan tanda tanya.
“ Resikonya terlalu berat…kita ini bukan lah malaikat lagian takan ada untung bagi kita mengungkap kasus seperti itu…kita bisa di cekal” Aku benar-benar tak mengerti…bukan kah baru kemaren soreh kata sepakat tercapai untuk menguak sekandal “dia”…tapi dalam hitungan hari berubah secepat ini…
“Sudah…ini lah dunia jurnalis sebenarnya….semua idelaisme akan lebur secara berlahan…tuntutan peran” kakYanto penangung jawab rubrik opini berbisik padaku berlahan. Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku mengikuti keputusan itu…achhhhhhhhh! Wajah kusengajakan terlipat empat, satu hari penuh…aku benar-benar kecewa…
Ini wajah jurnalisme Indonesia. Semuaya penuh kebohongan dan tak ada satu poin nya yang berpihak pada kepentingan publik, hanya selegokan saja membela kepentingan masyarakat, tapi pada kenyataanya…semuanya topeng…
Kode etek jurnalistik, hanya di pandang sebagai peraturan yang di gudangkan dan di pelajari saja secara teoritis tanpa di peraktek kan. Initnya semakin banyak peraturan makan semakin ketat pula pelangaran…dengan berbagai dalil mencari pembenaran!!!
Apakah benar pilihan hidup menjadi seorang jurnalis, sedangkan karakter diri di tekan “pembunuhan karekter” namanya. Saat sebuah kebenaran dibungkam lalu terpendam dengan amplop berisi beberapa lembar merah bernilai ratusan ribu. Kapan semuanya menjadi benar jika fakta…selalu di timbun dengan uang.
Aaaahhh! Aku pusing. Saat informasi yang kukumpulkan beberapa hari ini dengan susah payah kesana kemari, ternyata…sia-sia saja. Apakah karena dia seorang pejabat?…apakah dia mempunyai karungan uang?…apakah dia seorang tepandang?…sehingga semua kesalahanya di anggap benar? dan tak mampu di cuil sedikitpun…semuanya bungkam, karena dia seorang pejabat Provinsi ini… hukum pun tak mampu menyentuhnya…apalagi sebuah harian local seperti Koran “ini”…. Apakah aku sanggup bertahan begini…Tuhan kenapa kah orang seperti dia kau biarkan bebas berkeliaran di bumi Mu?
Benarlah…yang salah menjadi benar…yang benar menjadi salah…lalu untuk apalagi mencari kebenaran kalau begitu….
Keparat kau! Berengsek! kau kira akan tenang dengan berlindung digudang uang mu yang kau curi dari keringat masyarakat. Mungkin anjing saja lebih mulai darimu…sakit sekali rasanya hatiku. Dasar anjing berdasi. Terus saja aku mengupat dalam hati. Kenapa selalu positif tentang dia di Koran local kota ini. Padahal semua orang tau laki-laki gendut itu bagaimana. Dasar penjilat semuanya…
Dengan gundukan marah bak lahar yang ingin ku tumpahkan. Aku menarik kaki ku keluar…emosi ku benar-benar tak setabil, dan aku takut dampaknya akan buruk. Satu-satunya tujuan ku adalah rumah…aku ingin pulang, istirahat…
Akhirnya hari…semuanya menjadi hampa. Aku malas lagi rasanya mencari berita tentang apapun…ingin ku tulis saja tetang laki-laki gendut itu…penyelamat…berhati baik…gemar menabung…toleransi…patuh pada orang tua….apakah setelah aku menulis sanjungan-sangjungan seperti itu ..aku akan mendapat kan pujian dari Biro Humas nya lalu di tangan ku akan ada segepok uang. Cuiiiihhhh….dari pada menulis itu..lebih baik ku tulis saja…dia babi. Astagfirullah! Ya Allah begitu kotorkah hatiku…hingga kata-kata itu tertulis juga…tapi Tuhan dia pantas mendapatkan upatan itu…
Achhhh…aku benar-benar kesal. Lebih baik menulis fiksi sajalah dari pada menulis fakta…akan tetapi ujung-ujungnya di jadikan fiktif…demi kepentingan tertentu…