Archive for October, 2006

yang telukai oleh ku

Sunday, October 15th, 2006

ah tuhan…aku menyakiti dia…sahabat baiku…aku ingin dia memaaf kan aku…hanya itu!

maaf kan aku…tolong maaf kan aku. dan aku ingin kita seperti dulu lagi

atas semua yang ku lakukan….

aku yang salah….bukan siapa-siapa….

aku minta maaf lahir batin

PEMBUNUHAN KARAKTER!!!!

Friday, October 13th, 2006

“ apa? di tarik kembali! Berita ini harus di publikasi kan! Masyarakat perlu tau kebenaranya. Ini kan telah masuk ke meja redaksi? Bukankah tim sepakat untuk mejadikan topik ini sebagai berita utama…” komentar ku dengan nada sedikit meninggi, penuh rasa kecewa dan tanda tanya.
“ Resikonya terlalu berat…kita ini bukan lah malaikat lagian takan ada untung bagi kita mengungkap kasus seperti itu…kita bisa di cekal” Aku benar-benar tak mengerti…bukan kah baru kemaren soreh kata sepakat tercapai untuk menguak sekandal “dia”…tapi dalam hitungan hari berubah secepat ini…
“Sudah…ini lah dunia jurnalis sebenarnya….semua idelaisme akan lebur secara berlahan…tuntutan peran” kakYanto penangung jawab rubrik opini berbisik padaku berlahan. Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku mengikuti keputusan itu…achhhhhhhhh! Wajah kusengajakan terlipat empat, satu hari penuh…aku benar-benar kecewa…

Ini wajah jurnalisme Indonesia. Semuaya penuh kebohongan dan tak ada satu poin nya yang berpihak pada kepentingan publik, hanya selegokan saja membela kepentingan masyarakat, tapi pada kenyataanya…semuanya topeng…

Kode etek jurnalistik, hanya di pandang sebagai peraturan yang di gudangkan dan di pelajari saja secara teoritis tanpa di peraktek kan. Initnya semakin banyak peraturan makan semakin ketat pula pelangaran…dengan berbagai dalil mencari pembenaran!!!

Apakah benar pilihan hidup menjadi seorang jurnalis, sedangkan karakter diri di tekan “pembunuhan karekter” namanya. Saat sebuah kebenaran dibungkam lalu terpendam dengan amplop berisi beberapa lembar merah bernilai ratusan ribu. Kapan semuanya menjadi benar jika fakta…selalu di timbun dengan uang.

Aaaahhh! Aku pusing. Saat informasi yang kukumpulkan beberapa hari ini dengan susah payah kesana kemari, ternyata…sia-sia saja. Apakah karena dia seorang pejabat?…apakah dia mempunyai karungan uang?…apakah dia seorang tepandang?…sehingga semua kesalahanya di anggap benar? dan tak mampu di cuil sedikitpun…semuanya bungkam, karena dia seorang pejabat Provinsi ini… hukum pun tak mampu menyentuhnya…apalagi sebuah harian local seperti Koran “ini”…. Apakah aku sanggup bertahan begini…Tuhan kenapa kah orang seperti dia kau biarkan bebas berkeliaran di bumi Mu?

Benarlah…yang salah menjadi benar…yang benar menjadi salah…lalu untuk apalagi mencari kebenaran kalau begitu….
Keparat kau! Berengsek! kau kira akan tenang dengan berlindung digudang uang mu yang kau curi dari keringat masyarakat. Mungkin anjing saja lebih mulai darimu…sakit sekali rasanya hatiku. Dasar anjing berdasi. Terus saja aku mengupat dalam hati. Kenapa selalu positif tentang dia di Koran local kota ini. Padahal semua orang tau laki-laki gendut itu bagaimana. Dasar penjilat semuanya…

Dengan gundukan marah bak lahar yang ingin ku tumpahkan. Aku menarik kaki ku keluar…emosi ku benar-benar tak setabil, dan aku takut dampaknya akan buruk. Satu-satunya tujuan ku adalah rumah…aku ingin pulang, istirahat…

Akhirnya hari…semuanya menjadi hampa. Aku malas lagi rasanya mencari berita tentang apapun…ingin ku tulis saja tetang laki-laki gendut itu…penyelamat…berhati baik…gemar menabung…toleransi…patuh pada orang tua….apakah setelah aku menulis sanjungan-sangjungan seperti itu ..aku akan mendapat kan pujian dari Biro Humas nya lalu di tangan ku akan ada segepok uang. Cuiiiihhhh….dari pada menulis itu..lebih baik ku tulis saja…dia babi. Astagfirullah! Ya Allah begitu kotorkah hatiku…hingga kata-kata itu tertulis juga…tapi Tuhan dia pantas mendapatkan upatan itu…

Achhhh…aku benar-benar kesal. Lebih baik menulis fiksi sajalah dari pada menulis fakta…akan tetapi ujung-ujungnya di jadikan fiktif…demi kepentingan tertentu…

UNTUK BIDADARI BENINGKU (bagian 2)

Friday, October 13th, 2006

apakah hari ini kau marah?
Saat aku tak ada untuk mu
Saat rasa kecewa itu begitu menguat
Memenuhi jiwamu

Entah berapa hitungan hari lagi
Aku ingin kembali menyentuh mu dengan kata-kata
Lama sekali…

Dan semuanya sudah menggunung
Ingin kau tumpahkan
Seperti lahar yang memerah

Saat itu aku ingin menjadi sungai untukmu
Agar semua sejuk
Menerpa jiwamu…

Hingga seperti embun yang menempel di daunan di pagi hari
Takan ada yang akan kau pendam, bukan?

Pukulah aku dengan kata-katamu
Jika tangan mu tak jua mampu

Aku akan mengunci tenggorokan ku
Agar tak ada pembelaan…

Dan aku akan membisikan kata-kata

“jangan marah lagi…”

karena wajah mu yang putih bening itu
akan siran jika di sembunyikan
dengan api amarah
seperti api yang menggulung matahari…

bukan kah begitu wahai wanita yang
ku harap kan menjadi darah yang mengalir di tubuhku

CAPEK!!! “Kakak jangan matiiiiii!!!!!!” (Catatan tentang si twin. Ketika letih menyergap seluruh tubuhku)

Friday, October 13th, 2006

Tepat pukul lima soreh aku telah ada di rumah
Bruukkk! Tubuh tinggi ku menghantam kasur. Dan tergolek sukses…kaos kaki hitam masih menempel di kakiku, topi berwarna merah masih bertengger di kepala ku menutupi rambut…mataku benar-benar lelah. Ketika semua capek ku hampir di terbangan oleh mimpi..tiba-tibah saja ada yang menindih punggung ku berat sekali!!! aku kaget seketik langsung membuka mataku lagi-lagi si gembar.

Dan kedua anak itu sudah duduk di punggung ku…ya ampun! bahkan aku tak bisa istirahat. Karena kelewat ngantuk aku mebiarkan saja…. mahluk mungil itu tertawa-tertawa ringan. Terdengar sayu colotehan yang tak sempat ku tangkap apa yang sedangn mereka bicarakan… harus bagaimana lagi. Walaupun aku melengking atau marah…mereka tetap tidak akan mengrti kalau kakak mereka sedang benar-benar letih hari ini.
“kakak…banguuuuunnnn…kita main PS” alah mak jang!! Salwa berteriak-teriak di telingaku…
“iya kak…tadi adek menang main Dragon Ball sama Salwa” aku mengambil bantal dan menutup telingaku. Tapi mereka tak menyerah begitu saja…
“kakak…capek yach?” eh, aku kaget demi mendengar pertanyaan Salwa…lalu berlahan aku membuka mataku dan menatap wajah imutnya…yang berbaring menelungkup memandang wajahku, aku mengembangkan senyum dan mengangguk pelan.
“sini adek pijaki punggung nya…” tawar Sahwal…kebetulan otot-otot pegal-pegal…dengan senang hati aku menelungkupkan tubuh ku… cekatan telapak kaki kecil Sahwal sudah mondar-mandir di belakang tubuhku, sesekali terjatuh dan kembali naik. Aku merasa lebih baik…tapi tiba-tiba saja terasa berat dan sakit…ya ampun! Salwa pun naik…aku mengerang kesakitan ketika mereka meloncat-loncat di tubuh ku.

Kukira mereka akan benar-benar mengerti? Ternyata dugaan ku meleset jauh…aduuhhh! dan main silat-silatan pula, dikira mereka tubuh ku ini adonan yang mau di ratakan dan satukan…dasar anak kecil
“ matiiiiiiiiii! Kakak kalo gini…turuuunnn sakiiiiiiittt” teriaku, tapi mereka tak jua mau berhenti
“ciattt..ciattt…” eleh-eleh, mereka semakin menjadi

Dan tiba-tiba saja muncul di benak ku untuk mengerjai mereka. Pura-pura pingsan sajalah. Aku tak bergerak-gerak dan memejam kan mataku rapat. Setelah tak ada reaksi dariku. Barulah mereka berhenti, tapi…
“ kaaaaaaaaaa…jangan mati…hiks..hiks..hiks…” tiba-tiba saja Salwa terisak pelan seraya memegangi pipiku…sahwal pun tertegun. Aku membuka mataku sedikit melihat muka cemas meraka.
“gara-gara kau ni Sahwal…kekuatan mijak kakak…kan dia matiiiii! Hiks..hiks..hiks…kaaaa maaf kan adekkk…”telapak tangan Sahwal mengelus-elus wajah ku….dan mencium dengan bibir mungilnya. Aku ingin sekali tertwa saat itu. Sahwal hanya terdiam…dan berlahan dia memegangi tangan ku dan memijitnya. Aku ingin saja terpingkal-pingkal…karena tidak tega melihat mereka yang begitu cemas…
“duarrrrrrrrr! “ mereka kaget. Dan secara sepontan aku memeluk si gembar…mereka terdiam di pelukan ku…ach betapa kalian berdua berarti bagi kakak…
“sakit yach kak?” Salwa bertanya polos dalam pelukan ku
“tadi adek loncat-loncat di suruh Salwa” komentar si sahwal…aku tertawa pelan. Dan mereka pun saling menyalahkan.
“iya…sakit. Tapi enak kok..kakak nggak pegal-pegal lagi…eh, lepasin kaos kaki kakak donk?” dengan sigap kedua adik mungil ku itu melepas kaos kaki di kaki ku… lelah ku sudah terlupakan…
“bauuuuuuuuuu…kaki kakak nich iiihhh” kata Salwa seraya menutup hidungnya, dan melempar kaos kaki ku ke lantai. Iya…dia sangat pembersih
“ha..ha..ha..”aku tertawa dan mengajak-ajak rambut gadis keilku.
“yuk kita main PS!” ajak ku
“horeeeeeeeee….”

Mereka berteriak ke girangan. Keduanya berloncatan dari ranjang. Sebenarnya aku ingin tertidur soreh ini, setelah seharian penuh di lapangan kesana kemari. Tapi aku pun harus ada untuk mereka…toh waktu ku banyak di luar dan waktu ku pun besama si gembar tersita banyak. Hanya malam dan soreh hari.
Malam pun kadang aku pulang larut sekarang, ketika mereka telah tergeletak di depan televisi dengan buku-buku pelajaran…pengasuh mereka baru pulang setelah ada aku atu orang tua ku di rumah. Aku akan mengangkat tubuh mungil itu ke kamar…
Mereka adalah harta yang paling berharga bagiku saat ini, tak ada yang lebih inda h kecuali mereka. Si gembarku yang begitu lucu…

Teriak-teriakan ringan terdengar dari bibir kami bertiga.
“ huuuuu…jangan melawan kak” pinta Salwa memelas ketika tangan ku lincah menekan tombol
“loh? Masa` kakak diam ajaaaa…nggak seru lahhh”
“iyo Salwa ni..bilang ajo kau dak pacak main…iihhh kala terus..”
“diam lahhhhh….cerewet nian kau ni awak lanang (padahal cowok)!” dan celpukkkk! Tangan Sahwal memukul bahu Salwa…dan Sahwal tak mau megalah dia menggigit jari Sahwal
“astaga! Tengkarlah lagi!…kakak nyebur aja di bak mandi kalo mau tengkar biar kakak matiii” anjam ku dengan mata melotot. Itulah senjataku satu-satunya untuk menghentikan perang mereka…hehehehhe kadang aku geli sendiri…
“jangan matiiii..idak lagiii” Sahwal memeluk lengan ku
“gara-gara kau ni Salwa…” alaaaahhh! Masih lagi…
“tapi kakak janga melawan main game nyo…” pinta Salwa
“ya sudah lah kakak diam aja…” hehehehe. Salwa kegirangan…
“tu kan adek mengan kak…” aku menggeleng saja…
“sini gantian…”
Begitulah… kedua adik-adiku yang mengisi kekosongan jiwa ku…aku hanya bertahan untuk mereka…ketulusan dari cinta…

UNTUK GADIS BENING-KU (bagian 1)

Friday, October 13th, 2006

hanya ini…perasaan yang tersimpan rapat
di sudut hati…

kupanjang kan setiap langkah ku
untuk menyeberangi…perasaan yang telah kau bawa jauh
agar aku bisa menggapainya kembali…untuk mu

malam ini pun…
kau lah…yang kembali mengisi
tiap ruang hatiku…

hari ini pun…
senyum mullah…
yang mengusir tiap letih
yang meneteskan keringt di tubuhku

jam ini pun…
suara mulah…menggerakan
jiwa ku…untuk mengulurak tangan..
menyambut mereka yang seperti daun berguguran di pinggir
jalan tak berbentuk

detik ini pun…
aku ingin hidup…
untuk tidak menghentikan kata-kata
yang berterbangan dari ujung jari dan bibirku

untuk mu wahai bidadari beningku…

bersabar lah…
hingga aku akan menatap mu…
tanpa dinding pulau
yang sekarang memisahkan aku dan dirimu

Tuesday, October 10th, 2006

tak taulah aku ingin menulis apa, ya sudah…. aku menulis saja semauku……
tanpa titik dan tanda koma….karena aku sedang bingung…..
kenapa pula harus kembali…lagiiiiiiii…..?
achhhh aku pusing……ingin ku tumpahkan semua amarahku, bak lahar yang tertumpah di pujak lereng gunung

aku ingin berteriak….ingin ku tembus langit ketujuh dengan lengkingan suaraku
agar Tuhan mendengar……………………….

ach……aku bosan!

hanya itu sajalah…..

hari ini melelahakan
……………