SARAPAN-KU PAGI INI (catatan pagi ini tentang si twin)

Ketika aku membuka jendela, dan angin pagi bertiup pelan sekali… menerpa wajah ku. Gelap pekat telah sirna, yang ada sekarang adalah terang kebiru-biruan. Aku mengeliat segar…setelah sahur aku tak memejam kan mata lagi. Senandung instrumen doa menggema di setiap sudut ruangan.

“Kakaaaaaaa……” suara manja itu datangnya dari kamar ku. Si kecilku Salwa. Aku menarik kaki ku menuju kamar. Dan ternyata dia sudah terbangun tapi masih tergolek manis di atas ranjang dan tubuh itu terbalut selimut, aku mendekatinya dan menyibakan selimut di tubuhnya…
“Dah bangun…pagi-pagi begini. Nggk ngompol lagi kan?” tanyaku. Dia menggeleng pelan. Aku menggedong nya untuk turun dari ranjang, kemudian dia melangkah ke kamar mandi mencuci muka. Aku kembali kedepan dan menghidupakan televisi. Tak lama si Sahwal pun terbangun, tapi dia sedikit beda… tanpa cuci muka atau bicara langsung ke dapur dan menyambar sepotong kue mengunyahnya dengan semangat. Aku mengernyitkan dahi…biasanya aku akan melengking melihat ulahnya ini, tapi tidak hari ini…sabar…puasa!
“Kenapa nggk cuci muka dulu? gosok gigi kek…” bertanya selembut mungkin
“Laparrrrrrr….” Jawabnya lantang dan cuek. Loh…aku hanya menggelengkan kepalaku…
“ Iiiihhhh…tai mata nya masih ada langsung makan…jorok nian…” dan komentar itupun keluar dari mulut Salwa. Demi mendengar itu Sahwal melempar kue itu ke muka Salwa. Ya ampun…
“Suuuudah lah…pagi-pagi lah tengkar..” aku mencoba melerai…dan tak kala gesitnya Salwa mencibir…
“Sakit gilo…..” pekik Salwa…
“Kau gilo!…bilang orang jorok…daripada kau…”
“Orang tu gosok gigi dulu…cuci muka dulu…” dan perang kata-katapun pecah. Sahwal merasa kesal karena di gurui dan itu dari rival nya di rumah ini. Dia terdiam sejenak… memikirkan kata-kata tepat yang akan membuat si Salwa sakit hati
“ Iiihhhh dari pada kau pacaran dengn kakek Izan…” dan apa respon Salwa ketika mendengr kata-kata Sahwal.
“Huaaaaaa hiks..hiks..kakaaaaaaaaaa…..liatlah Sahwal tu. Bilang adek pacaran samo kakek Izan. Dedek dak gala….” Duh…dia menangis hebat…aku ingin tertawa sekaligus marah. Melihat Salwa meraung-raung Sahwal pun berlari menjauh…

Aku teringat kalau Salwa sangat takut dengan kakek Izan. Tetangga sebelah kami, karena mungkin kelihatan aneh…kepalanya botak kurus..dan giginya tinggal satu di depan. Padahal sebenarnya kakek Izan sangat menyukai Salwa. Tapi setiap kali Salwa melihat kek Izan dia lari kocar-kacir ketakutan dan memucat. Dasar anak kecil…
Dan akhirnya pagi ini pun aku harus di suguhi sarapan seperti ini. Lima menit harus membujuk Salwa agar berhenti menangis…

Leave a Reply